I.
Latar
Belakang
Filsafat
barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern,
hal ini dapat terungkap dalam istilah
dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah
rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,
Tokoh-tokoh
besar banyak bermunculan pada abad XX
ini seperti Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein dll. Menurut Ahmad Tafsir
dalam bukunya Filsafat Umum Akal dan
Hati Sejak Thales sampai Capra, Nietzsche adalah tokoh pertama yang sudah
menyatakan ketidak puasannya terhadap dominasi atau pendewaan rasio pada tahun
1880an. jadi menurutnya tokoh the pertama filsafat dekontruksi adalah
Nietzsche. Dengan alasan pada tahun 1880an Nietzsche menyatakan bahwa budaya
Barat telah berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio,
kemudian baru tahun 1990 Capra juga mengatakan demikian.
Rasionalisme
Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat
yang keliru dan juga keliru cara penggunaannya,
akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan
mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern. Akibatnya
timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang
berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang
mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi
jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya
manusia terasing tanpa batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya
lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.
Perlu
diingat Filsafat Barat Kontemporer sangat Heterogen, karena profesionalisme
yang semakin besar akibatnya muncul banyak filsuf yang ahli dibidang
Matematika, Fisika, Psikologi, Sosiologi ataupun Ekonomi. Sehingga banyak
pemikiran lama dihidupkan kembali seperti neothomisme, neokantianisme,
neopositivisme dan sebagainya.
Dimasa
ini Prancis, Inggris dan Jerman tetap merupakan Negara-negara yang paling depan
dalam filsafat, sehingga pada umumnya orang membagi periodisasi Filsafat Barat
Kontempoter menjadi dua, pertama filsafat kontinental meliputi Prancis dan
Jerman, kedua Filsafat Anglosakson meliputi Inggris.
Aliran-aliran
yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi,
Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan
Postmodernisme.
II. Perkembangan Filsafat
Barat Kontemporer
Filsafat
berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan),
tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut term : ingin tahu dengan
mendalam (cinta pada kebijaksanaan) Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi
orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM),
sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli
pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap
tidak sesuai untuk manusia .[1]
Filsafat
kontemporer yang di awali pada awal abad ke-20, ditandai oleh variasi pemikiran
filsafat yang sangat beragam dan kaya. Mulai dari analisis bahasa,kebudayaan
(antara lain, Posmodernisme), kritik social, metodologi
(fenomenologi,heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (Eksistensialisme),
filsafat ilmu, samapaifilsafat tentang perempuan (Feminisme). Tema-tema
filsafat yang banyak dibahas oleh para filsuf dari periode ini antara lain
tentang manusia dan bahasa manusia, ilmu pengetahuan, kesetaraan gender, kuasa
dan struktur yang mengungkung hidupmanusia, dan isu-isu actual yang berkaitan
dengan budaya, social, politik, ekonomi,teknologi, moral, ilmu pengetahuan, dan
hak asasi manusia.Ciri lainnya adalah filsafat dewasa ini ditandai oleh
profesionalisasi disiplinfilsafat. Maksudnya, para filsuf bukan hanya
professional di bidang masing-masing,tetapi juga mereka telah membentuk
komunitas-komunitas dan asosiasi-asosiasi professional dibidang-bidang tertentu
berdasarkan pada minat dan keahlian merekamasing-masing (Zaenal, 2011:
124).Sejumlah filsuf sebagai filsuf-filsuf kontemporer antara lain adalah:
WilhelmDilthey (1833-1911), Edmund Husserl (1859-1938), Henri Bergson
(1858-1941),Ernst Cassirer (1874-1945), Bertrand Russell (1872-1970).[2]
Filsafat
Kontemporer muncul diawali sikap ingin mendobrak teori Filsafat Modern yang
menggunakan keuniversalitasan kebenara tunggal dan bebas nilai. Oleh sebab itu
salah satu ciri yang terdapat dalam Filsafat Kontempoter ini mengagungkan
nilai-nilai relatifitas dan mini narasi, dan lebih cenderung beragam dalam
pemikiran.
Di
antara ilmu-ilmu yang di bicarakan para
filsuf, maka Fisika menempati kedudukan yang paling tinggi. Fisika di pandang
sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materialnya mengandung unsure-unsur
Fundamental yang membentuk alam semesta. Fisikawan yang termasyur abad 20-an
adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu takberhingga besarnya dan
tak berbatas, tetapi juga tak berubah status totalitasnya atau bersifat statis
dari waktu ke waktu.
Di
samping teori mengenai Fisika, teori alam semesta, maka zaman kontemporer
ini tandai dengan penemuan berbagai
teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang
mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan computer, berbagai satelit
komunikasi, internet, dan lain sebagainya.
Bidang
ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi
spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semkin tajam. Ilmuan kontemporer mengetahui
sedikit tetapi secara mendalam. Ilmu kedoktoran semakin menajam spesialis dan
subspesialis.[3]
Ciri
filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern
yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik
Logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen
utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat
Holistic dan filsafat dekonstruksi.
III. Contoh perkembangan ilmu di zaman kontemporer
1. Teknologi Rekayasa Genetika
Salah satu bentuk perkembangan ilmu
zaman kontemporer yang sangat masyhur adalah di bidang rekayasa genetika berupa
teknologi cloning. Empat tahun kemudian tepatnya pada tanggal 23 februari 1997,
Dr. ian Wilmut dari pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama
Dolly. Teknik yang di gunakan oleh Dr. Wallimut dikenal dengan alih inti sel
somatik, yaitu mengambil inti sel somatik domba jenis tertentu (sebut
misalnya domba A) untuk kemudian untuk diijenikasikan kedalam sel telurdomba
jenis yang lannya.sebelum ijeksi dilakukan, sel telur tersebut sudah diambil
terlebih dahulu inti selnya (dikosongkan). Dengan suatu loncatanlistrik, inti sel
domba A akan berkembang dan membelah, dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi
individu baru.
Begitulah teknik rekayasa genetika
berkembang dari waktu ke waktu.Dan setelah berbagai keberhasilan teknik
kloning yang telah pernah lakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan
kloning pada manusia. Dari ide inilah, wancana kloning menjadi sesuatu yang
semakin controversial.[4]
2. Teknologi Informasi
Pada
tahun 1937,seorang insinyur Amerika yang bernama Howard Aiken merancang IBM
Mark 7 yang merupakan nenek moyangnya computer mainframe saat ini.Komputer
tersebut menggunakn tabung valum dan elektro mekanikal dan bukan tombol-tombol
elektronis.
Komputer telah mengubah wajah
peradaban Barat modern secara dratis sejak tahun 80-an.Pada awalnya, komputer dikenal sebagai”otak
elektronis”yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat
kesulitan yang berbeda-berbeda. Komputer merevolusi ilmu matemtika melalui
kemapuannya memperluas jangkauan otak jarak yang ditempuh. Tren perkembangan
komputer mutakhir cenderung menghendaki bentuk yang semakin mengecil.Komputer
juga tidak saja menjadi alat pengolahan data tapi juga memasuki wilayah
komunikasi interaksi dalam bentuk internet.Begitulah internet pun terus
dikembangkan hingga saat ini dengan berbagi fasilitas yang terdapat di dalamnya
seperti e-mail, chatting, download file dari berbagi situs, dan lain-lain.[5]
3.
Santri,
Priyayi, dan Abangan
Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di
Indonesia, penelitian Clifford Geertz yang dalam versi aslinya berjudul The
Religion Of Java merupakan satu bahasan
yang menarik. Arti penting dari karya Geertz the Religion of java adalah
sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai system-sistem symbol yaitu
bagaiman hubungan antara struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan
mengorganisasian dan perwujudan symbol-simbol, dan bagaimana para anggota
masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disentergrasi dengan cara
mengorganisasi dan mewujudkan smbol-simbol tertentu, sehingga
perbedaan-perbedaan yang tampakdiantara struktur-struktur sosial yang ada dalam
masyarakat tersebut hanyalah bersifat kontemporer.
Tiga lingkungan yang berbeda (yaitu
perdesaan, pasar dan kantor pemerintah) yang dibarengi dengan latar belakang
sejarah kebudayaan yang berbeda telah mewujudkan adanya abangan (yang
menekankan animistic), Santri (yang menekankan aspek-aspek islam), dan Priyayi
(yang menekankan aspek-aspek Hindu). Abangan, Santri, dan Priyayi yang
masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan, tetapi
masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya
system sosial jawa yang berlaku umum di Mojokuto. Inilah sesunggguhnya tesis
Gerrrtz yang diusahakan untukdiperlihatkan dalam bukunya The Religion of java,
yaitu agama bukan hanya memainkan peranan pemecah belah dalam Masyarakat
IV.
Aliran-Aliran dalam Filsafat Barat Kontemporer
1. Pragmatisme
Di
Amerika Serikat aliran Pragmatisme mendapat tempatnya yang tersendiri didalam
pemikiran filsafat, William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan
pragmatisme kepada dunia. Aliran Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah
apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya
yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini menganggap benar apa yang
akibat-akibatnya bermanfa’at secara praktis. Jadi patokan dari pragmatisme
adalah bagaimana dapat bermanfaat dalam kehidupan praktis. Dan pegangan pragmatisme adalah logika
pengamatan. Kebenaran mistis pun dapat diterima asalkan bisa bermanfa’at secara
praktis misalnya ada penyembuhan alternative yang menggunakan tenaga magis.
Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat secara praktis.
Tokoh-tokohnya
: William James, Jhon Dewey, F.C.S Schiller.
2. Vitalisme
Akibat
dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik di awal abad XX mengakibatkan
perkembangan industrialisasi yang cepat pula, sehingga menjadikan segala
pemikiran diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi saja, baik jagat raya,
maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang
masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri. Serta bekerja menurut hukum
yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu.
Aliran
Vitalisme memandang bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau
prinsip vital dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul dari reaksi terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi. Dimana segala sesuatu
dapat dianalisa secara matematis.
Tokoh-tokohnya:
Henri Bergson
3. Fenomenologi
Kata
Fenomenologi berasal dari Yunani fenomenon yang artinya sesuatu yang
tampak, terlihat karena bercahaya, dalam
bahasa Indonesia disebut”gejala”.[12] Jadi fenomenologi adalah suatu aliran
yang membicarakan segala sesuatu selama hal itu tampak. Pelopor aliran ini
adalah Edmund Husserl.
Tokoh-tokohnya:
Edmund Husserl, Marx Secheler
4. Eksistensialisme
Kata
Eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi yang diturunkan dari
kata kerja sisto (berdiri, menempatkan) jadi eksistensialisme dapat diartikan
manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar
bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu hal yang pasti yaitu bahwa
dirinya ada.
Eksistensialisme
adalah aliran Filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada
eksistensi, Eksistensi sendiri merupakan cara berada manusia di dunia, dan cara
ini berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lainnya. Benda mati atau hewan
tidak sadar akan keberadaannya tetapi manusia menyadari keberadaannya, manusia
sadar bahwa dirinya sedang bereksistensi oleh sebab itu segala sesuatu berarti
selama menyangkut dengan manusia, dengan kata lain manusia memberikan arti pada
segalanya, manusia menentukan perbuatannya sendiri, ia memahami diri sebagai
pribadi yang bereksistensi.
Dalam
teori ini berpandangan bahwa manusia adalah eksistensinya mendahului esensinya
(hakikat), dan sebaliknya benda-benda lain esensinya mendahului eksistensinya,
sehingga manusia dapat menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri,
hidupnya tidak ditentukan lebih dulu, sebaliknya benda-benda lain bertindak
menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.
Tokoh-tokohnya:
Jean Paul Sartre, Gabriel Marcel
5. Filsafat
Analitis
Aliran
Filsafat Analitis ini pertama muncul di Inggris dan Amerika serikat sejak tahun
1950, Filsafat analitis sering juga disebut filsafat bahasa, filsafat ini
merupakan reaksi dari idealisme, khususnya neohegelianisme di inggris. Para
penganutnya menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan konsep-konsep.
Tokoh-Tokohnya:
Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, John Langsaw Austin
6. Strukturalisme
Strukturalisme
muncul diprancis pada tahun 1960an, dan dikenal juga dalam linguistic, psiatri
dan sosiologi, strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan
kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap, maka kaum strukturalis
menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut.
Tokoh-tokohnya:
Levi Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault
7. Postmodernisme
Aliran
Post Modernisme ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala
dampaknya, pengertian postmodern bukan sesuatu yang baru dalam filsafat Lyotard
menjadi orang pertama yang mengintroduksikan istilah ini ke dalam filsafat.
Tokoh-tokohnya: Jean Francois Lyotard.
V.
Pilar Pilar Filsafat Kontemporer
Filsafat telah melahirkan apresiasi dan respon yang
besar dalam sejarah pemikiran dan memunculkan pilar – pilar Filsafat
Kontemporer. Pilar yang pertama adalah etika, di mana merupakan hasil dari
refleksi moralitas yang kemudian melahirkan aliran-aliran filsafat yang
dikembangkan oleh para filosof. Dalam memahami etika sebagai suatu ajaran
tentang seni hidup, atau menempatkan sebagai kebahagiaan ke pusat etika
(Aristoteles), dan kemudian pemikiran ini direligiuskan oleh Thomas Aquinas.
Dan Imanuel Kant menjadikan etika yang semula seni kehidupan menjadi etika
kewajiban, dan ini melahirkan konsep sentral etika modern, yaitu konsep otonomi
moral. Pemikiran ini lebih lanjut, kemudian dikembangkan oleh George Wilhelm
Friedrich Hegel dan dipadukan dengan teori dialektikanya.
Pilar yang kedua adalah
fenomenologi, dengan tokoh sentralnya Edmund Hussel (1859-1938) fenomenologi
merupakan salah satu dari arus pemikiran yang paling berpengaruh pada Abad
ke-20. Secara umum fenomenologi lahir dari persoalan fenomena yang dibawa ke
ruang public pertama kali oleh Hegel dengan ruh absolutnya. Husserl lalu
mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu tentang penampakan (fenomena), dan
bagi Husserl berbicara tentang esensi di luar eksistensi adalah kerja sia-sia,
dan hal inilah yang membedakan fenomenologi Husserl dengan fenomenologinya
Hegel dan Kant. Para filosof yang
terpengaruh oleh fenomenologi adalah Derrida, Kierkegard, Cascirer.
Pilar yang ketiga adalah
eksisitensialisme. Eksistensialisme tidak lagi membahas pertanyaan-pertanyaan
esensi dan kodrat, akan tetapi lebih menekankan masalah seputar eksistensi.
Seorang filosof eksistensialis, semisal Sartre, bekerja keras dalam
permasalahan esensi dan eksistensi, yang kemudian memunculkan sebuah tesis
bahwa "eksistensi mendahului esensi". Dan ini membalik tradisi
pemikiran filsafat Barat sejak Plato, yang selalu mengatakan bahwa esensi
mendahului eksistensi.
Pilar yang ke empat adalah filsafat
budaya. Jika dilihat dari sudut pandang filosofis akan melahirkan dimensi
subyektif dan obyektif. Di mana dimensi subyektif adalah daya yang menjadikan
produk (alam) menjadi produk yang lebih baik, sedangkan dimensi obyektif adalah
hasil dari kegiatan daya tadi.
Kesimpulan
Filsafat
dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan
filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh
rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama
Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan
filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.
Filsafat
barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern,
hal ini dapat terungkap dalam istilah
dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah
rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,
Rasionalisme
Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat
yang keliru dan juga keliru cara
penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara
berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern.
Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang
berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang
mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi
jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya
manusia terasing tanpa batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya
lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup. Aliran-aliran yang muncul
pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme,
Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.
Ciri
filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern
yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik
Logosentrisme, rasionalisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio
sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua
jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi.
DAFTAR PUSTAKA
Hadiwidjono,
Harun. 1998. Sari Sejarah Filsafat
Barat 1. Yogyakarta : Kanisius.
Mustansyir,
Rizal. 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Bakthiar,
Amsel. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Grafindo Persada.