Jumat, 04 Maret 2016

filsafat kontemporer

I.       Latar Belakang
Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,
Tokoh-tokoh besar banyak bermunculan pada  abad XX ini seperti Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein dll. Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat  Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Nietzsche adalah tokoh pertama yang sudah menyatakan ketidak puasannya terhadap dominasi atau pendewaan rasio pada tahun 1880an. jadi menurutnya tokoh the pertama filsafat dekontruksi adalah Nietzsche. Dengan alasan pada tahun 1880an Nietzsche menyatakan bahwa budaya Barat telah berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio, kemudian baru tahun 1990 Capra juga mengatakan demikian.
Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern. Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.
Perlu diingat Filsafat Barat Kontemporer sangat Heterogen, karena profesionalisme yang semakin besar akibatnya muncul banyak filsuf yang ahli dibidang Matematika, Fisika, Psikologi, Sosiologi ataupun Ekonomi. Sehingga banyak pemikiran lama dihidupkan kembali seperti neothomisme, neokantianisme, neopositivisme dan sebagainya.
Dimasa ini Prancis, Inggris dan Jerman tetap merupakan Negara-negara yang paling depan dalam filsafat, sehingga pada umumnya orang membagi periodisasi Filsafat Barat Kontempoter menjadi dua, pertama filsafat kontinental meliputi Prancis dan Jerman, kedua Filsafat Anglosakson meliputi Inggris.
Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.

II. Perkembangan Filsafat Barat  Kontemporer
Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut term : ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan) Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia .[1]
Filsafat kontemporer yang di awali pada awal abad ke-20, ditandai oleh variasi pemikiran filsafat yang sangat beragam dan kaya. Mulai dari analisis bahasa,kebudayaan (antara lain, Posmodernisme), kritik social, metodologi (fenomenologi,heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (Eksistensialisme), filsafat ilmu, samapaifilsafat tentang perempuan (Feminisme). Tema-tema filsafat yang banyak dibahas oleh para filsuf dari periode ini antara lain tentang manusia dan bahasa manusia, ilmu pengetahuan, kesetaraan gender, kuasa dan struktur yang mengungkung hidupmanusia, dan isu-isu actual yang berkaitan dengan budaya, social, politik, ekonomi,teknologi, moral, ilmu pengetahuan, dan hak asasi manusia.Ciri lainnya adalah filsafat dewasa ini ditandai oleh profesionalisasi disiplinfilsafat. Maksudnya, para filsuf bukan hanya professional di bidang masing-masing,tetapi juga mereka telah membentuk komunitas-komunitas dan asosiasi-asosiasi professional dibidang-bidang tertentu berdasarkan pada minat dan keahlian merekamasing-masing (Zaenal, 2011: 124).Sejumlah filsuf sebagai filsuf-filsuf kontemporer antara lain adalah: WilhelmDilthey (1833-1911), Edmund Husserl (1859-1938), Henri Bergson (1858-1941),Ernst Cassirer (1874-1945), Bertrand Russell (1872-1970).[2]
Filsafat Kontemporer muncul diawali sikap ingin mendobrak teori Filsafat Modern yang menggunakan keuniversalitasan kebenara tunggal dan bebas nilai. Oleh sebab itu salah satu ciri yang terdapat dalam Filsafat Kontempoter ini mengagungkan nilai-nilai relatifitas dan mini narasi, dan lebih cenderung beragam dalam pemikiran.
Di antara ilmu-ilmu yang di bicarakan  para filsuf, maka Fisika menempati kedudukan yang paling tinggi. Fisika di pandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materialnya mengandung unsure-unsur Fundamental yang membentuk alam semesta. Fisikawan yang termasyur abad 20-an adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu takberhingga besarnya dan tak berbatas, tetapi juga tak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu.
Di samping teori mengenai Fisika, teori alam semesta, maka zaman kontemporer ini  tandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan computer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan lain sebagainya.
Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semkin tajam. Ilmuan kontemporer mengetahui sedikit tetapi secara mendalam. Ilmu kedoktoran semakin menajam spesialis dan subspesialis.[3]
Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi.
III.  Contoh perkembangan ilmu di zaman kontemporer
1.      Teknologi Rekayasa Genetika
            Salah satu bentuk perkembangan ilmu zaman kontemporer yang sangat masyhur adalah di bidang rekayasa genetika berupa teknologi cloning. Empat tahun kemudian tepatnya pada tanggal 23 februari 1997, Dr. ian  Wilmut dari pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Teknik yang di gunakan oleh Dr. Wallimut dikenal dengan alih inti sel somatik, yaitu mengambil inti sel somatik  domba jenis tertentu (sebut misalnya domba A) untuk kemudian untuk diijenikasikan kedalam sel telurdomba jenis yang lannya.sebelum ijeksi dilakukan, sel telur tersebut sudah diambil terlebih dahulu inti selnya (dikosongkan). Dengan suatu loncatanlistrik, inti sel domba A akan berkembang dan membelah, dan pada akhirnya akan tumbuh menjadi individu baru.

Begitulah teknik rekayasa genetika berkembang dari waktu ke waktu.Dan setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang telah pernah lakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan kloning pada manusia. Dari ide inilah, wancana kloning menjadi sesuatu yang semakin controversial.[4]

2.      Teknologi Informasi
Pada tahun 1937,seorang insinyur Amerika yang bernama Howard Aiken merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyangnya computer mainframe saat ini.Komputer tersebut menggunakn tabung valum dan elektro mekanikal dan bukan tombol-tombol elektronis.
Komputer telah mengubah wajah peradaban Barat modern secara dratis sejak tahun 80-an.Pada awalnya, komputer dikenal sebagai”otak elektronis”yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-berbeda. Komputer merevolusi ilmu matemtika melalui kemapuannya memperluas jangkauan otak jarak yang ditempuh. Tren perkembangan komputer mutakhir cenderung menghendaki bentuk yang semakin mengecil.Komputer juga tidak saja menjadi alat pengolahan data tapi juga memasuki wilayah komunikasi interaksi dalam bentuk internet.Begitulah internet pun terus dikembangkan hingga saat ini dengan berbagi fasilitas yang terdapat di dalamnya seperti e-mail, chatting, download file dari berbagi situs, dan lain-lain.[5]

3.      Santri, Priyayi, dan Abangan
Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di Indonesia, penelitian Clifford Geertz yang dalam versi aslinya berjudul The Religion Of  Java merupakan satu bahasan yang menarik. Arti penting dari karya Geertz the Religion of java adalah sumbangannya kepada pengetahuan kita mengenai system-sistem symbol yaitu bagaiman hubungan antara struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan mengorganisasian dan perwujudan symbol-simbol, dan bagaimana para anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disentergrasi dengan cara mengorganisasi dan mewujudkan smbol-simbol tertentu, sehingga perbedaan-perbedaan yang tampakdiantara struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut hanyalah bersifat kontemporer.
Tiga lingkungan yang berbeda (yaitu perdesaan, pasar dan kantor pemerintah) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda telah mewujudkan adanya abangan (yang menekankan animistic), Santri (yang menekankan aspek-aspek islam), dan Priyayi (yang menekankan aspek-aspek Hindu). Abangan, Santri, dan Priyayi yang masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya system sosial jawa yang berlaku umum di Mojokuto. Inilah sesunggguhnya tesis Gerrrtz yang diusahakan untukdiperlihatkan dalam bukunya The Religion of java, yaitu agama bukan hanya memainkan peranan pemecah belah dalam Masyarakat

IV.       Aliran-Aliran dalam Filsafat Barat Kontemporer

1.      Pragmatisme
Di Amerika Serikat aliran Pragmatisme mendapat tempatnya yang tersendiri didalam pemikiran filsafat, William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan pragmatisme kepada dunia. Aliran Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini menganggap benar apa yang akibat-akibatnya bermanfa’at secara praktis. Jadi patokan dari pragmatisme adalah bagaimana dapat bermanfaat dalam kehidupan praktis.  Dan pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Kebenaran mistis pun dapat diterima asalkan bisa bermanfa’at secara praktis misalnya ada penyembuhan alternative yang menggunakan tenaga magis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat secara praktis.
Tokoh-tokohnya : William James, Jhon Dewey, F.C.S Schiller.
2.      Vitalisme
Akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik di awal abad XX mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang cepat pula, sehingga menjadikan segala pemikiran diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi saja, baik jagat raya, maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri. Serta bekerja menurut hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu.
Aliran Vitalisme memandang bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul dari reaksi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi. Dimana segala sesuatu dapat dianalisa secara matematis.
Tokoh-tokohnya: Henri Bergson
3.      Fenomenologi
Kata Fenomenologi berasal dari Yunani fenomenon yang artinya sesuatu yang tampak,  terlihat karena bercahaya, dalam bahasa Indonesia disebut”gejala”.[12] Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan segala sesuatu selama hal itu tampak. Pelopor aliran ini adalah Edmund Husserl.
Tokoh-tokohnya: Edmund Husserl, Marx Secheler
4.      Eksistensialisme
Kata Eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan) jadi eksistensialisme dapat diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu hal yang pasti yaitu bahwa dirinya ada.
Eksistensialisme adalah aliran Filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi, Eksistensi sendiri merupakan cara berada manusia di dunia, dan cara ini berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lainnya. Benda mati atau hewan tidak sadar akan keberadaannya tetapi manusia menyadari keberadaannya, manusia sadar bahwa dirinya sedang bereksistensi oleh sebab itu segala sesuatu berarti selama menyangkut dengan manusia, dengan kata lain manusia memberikan arti pada segalanya, manusia menentukan perbuatannya sendiri, ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.
Dalam teori ini berpandangan bahwa manusia adalah eksistensinya mendahului esensinya (hakikat), dan sebaliknya benda-benda lain esensinya mendahului eksistensinya, sehingga manusia dapat menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri, hidupnya tidak ditentukan lebih dulu, sebaliknya benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.
Tokoh-tokohnya: Jean Paul Sartre, Gabriel Marcel
5.      Filsafat Analitis
Aliran Filsafat Analitis ini pertama muncul di Inggris dan Amerika serikat sejak tahun 1950, Filsafat analitis sering juga disebut filsafat bahasa, filsafat ini merupakan reaksi dari idealisme, khususnya neohegelianisme di inggris. Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan konsep-konsep.
Tokoh-Tokohnya: Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, John Langsaw Austin
6.      Strukturalisme
Strukturalisme muncul diprancis pada tahun 1960an, dan dikenal juga dalam linguistic, psiatri dan sosiologi, strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap, maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut.
Tokoh-tokohnya: Levi Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault
7.      Postmodernisme
Aliran Post Modernisme ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya, pengertian postmodern bukan sesuatu yang baru dalam filsafat Lyotard menjadi orang pertama yang mengintroduksikan istilah ini ke dalam filsafat. Tokoh-tokohnya: Jean Francois Lyotard.
V.    Pilar  Pilar Filsafat Kontemporer
            Filsafat  telah melahirkan apresiasi dan respon yang besar dalam sejarah pemikiran dan memunculkan pilar – pilar Filsafat Kontemporer. Pilar yang pertama adalah etika, di mana merupakan hasil dari refleksi moralitas yang kemudian melahirkan aliran-aliran filsafat yang dikembangkan oleh para filosof. Dalam memahami etika sebagai suatu ajaran tentang seni hidup, atau menempatkan sebagai kebahagiaan ke pusat etika (Aristoteles), dan kemudian pemikiran ini direligiuskan oleh Thomas Aquinas. Dan Imanuel Kant menjadikan etika yang semula seni kehidupan menjadi etika kewajiban, dan ini melahirkan konsep sentral etika modern, yaitu konsep otonomi moral. Pemikiran ini lebih lanjut, kemudian dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel dan dipadukan dengan teori dialektikanya.
            Pilar yang kedua adalah fenomenologi, dengan tokoh sentralnya Edmund Hussel (1859-1938) fenomenologi merupakan salah satu dari arus pemikiran yang paling berpengaruh pada Abad ke-20. Secara umum fenomenologi lahir dari persoalan fenomena yang dibawa ke ruang public pertama kali oleh Hegel dengan ruh absolutnya. Husserl lalu mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu tentang penampakan (fenomena), dan bagi Husserl berbicara tentang esensi di luar eksistensi adalah kerja sia-sia, dan hal inilah yang membedakan fenomenologi Husserl dengan fenomenologinya Hegel dan Kant.  Para filosof yang terpengaruh oleh fenomenologi adalah Derrida, Kierkegard, Cascirer.
            Pilar yang ketiga adalah eksisitensialisme. Eksistensialisme tidak lagi membahas pertanyaan-pertanyaan esensi dan kodrat, akan tetapi lebih menekankan masalah seputar eksistensi. Seorang filosof eksistensialis, semisal Sartre, bekerja keras dalam permasalahan esensi dan eksistensi, yang kemudian memunculkan sebuah tesis bahwa "eksistensi mendahului esensi". Dan ini membalik tradisi pemikiran filsafat Barat sejak Plato, yang selalu mengatakan bahwa esensi mendahului eksistensi.
            Pilar yang ke empat adalah filsafat budaya. Jika dilihat dari sudut pandang filosofis akan melahirkan dimensi subyektif dan obyektif. Di mana dimensi subyektif adalah daya yang menjadikan produk (alam) menjadi produk yang lebih baik, sedangkan dimensi obyektif adalah hasil dari kegiatan daya tadi.





Kesimpulan

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.
Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,
Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern. Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup. Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.
Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme, rasionalisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi.

DAFTAR PUSTAKA

Hadiwidjono, Harun. 1998. Sari Sejarah Filsafat Barat  1. Yogyakarta : Kanisius.
Mustansyir, Rizal. 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Bakthiar, Amsel. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Grafindo Persada.



[1] Rizal Mustansyir, dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007) 2
[2]Rizal Mustansyir, dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007) 89-90
[3] Rizal Mustansyir, dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007) 135-138
       [4]  Amsel Bakhtiar, filsafat ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011) 75-77
       [5]  ibid